Don’t judge someone by cover

*Pengalaman teman saya di SMA. Namun saya menceritakan dengan menyamarkan nama sekolah dan nama teman saya karena menyangkut nama baik sekolah & teman saya. Saya sudah meminta izin kepada teman saya untuk menjadikan pengalamannya sebagai project tugas kuliah saya. Terimakasih*

Saat itu awal tahun 2012 lebih tepatnya awal semester genap. Ada isu dari teman saya akan ada anak baru di sekolah kami. Teman-teman cowok berharap dia itu seorang perempuan. saya pun berharap begitu. haha

Awal semester pun berlalu sebulan. Namun, kedatangan murid pindahan tersebut belum ada kabarnya. Akhirnya teman-teman saya bertanya kepada teman saya yang menyebar isu.

Teman-teman :”bro.. mana nih. katanya bakalan ada anak baru disekolah kita! kok udah sebulan belum belom nongol?”

Teman penyebar isu :”gatau juga gue. temen gue yang satu sekolah sama dia bilang bakal pindah kesini”

Teman-teman :”eh iya… yang pindah cewe apa cowo? gue penasaran nih”

Temen  penyebar isu :” gatau… kata temen gue.. liat aja sendiri nanti”

Beberapa hari setelah percakapan itu pun akhirnya murid baru tersebut muncul. Dia bernama XXXXX XXXXX (atau sebut saja dia budi) dia seorang laki-laki biasa saja seperti yang lain menurut saya. Saat itu dia masih malu untuk ngobrol bersama yang lain dan dia juga duduk sendiri. Beberapa hari kemudian dia mulai membaur bersama teman-teman.

Beberapa bulan kemudian dia mulai tidak masuk. Tidak ada kabar darinya. Beberapa hari kemudian dia pun muncul. Dia ternyata terkena alergi cukup parah tapi tetap memaksakan masuk.

Beberapa hari kemudian cewek-cewek di sekolah saya mulai membicarakan dia karena penyakit kulitnya. Mereka mengatakan kalau budi tidak bersih, jorok, dll *ya… mungkin karena mereka perempuan yang punya kepribadian selalu bersih. Tapi anehnya beberapa laki-laki mengatakan itu juga*. Mereka merasa risih dengan kehadiran Budi. Budi sadar kalau dia di gosipkan tentang penyakitnya tersebut. Akhirnya budi curhat kepada saya, dan 1 teman dekat saya yang Budi percayai. Budi mengatakan bahwa dia risih sekolah disini(SMA saya) padalah dulu diSMA lamanya tidak sampai begitu. Dia sampai mengatakan dia mau jadi dokter kulit agar tidak ada lagi yang orang mencemooh orang yang mempunyai penyakit kulit sepertinya.

Beberapa hari kemudian ada siswi yang melaporkan kepada guru dia tidak mau masuk kelas karena takut tertular. Guru ini memang seharusnya tidak punya kewenangan penuh diatas kepala sekolah. Namun, suami dari guru tersebut memiliki pangkat diatas kepala sekolah. Sehingga dia yang memegang penuh kewenangan sekolah, saya sangat prihatin melihat penyalahgunaan status ini.

Hingga akhirnya guru tersebut memaksa budi untuk libur sekolah untuk merobat selama seminggu dikarenakan banyak siswi yang risih dengan kehadirannya. Mungkin kelihatan guru tersebut benar meliburkan siswanya untuk berobat. Namun guru tersebut salah dalam menyatakanya dengan cara memaksa. Itu termasuk suatu diskriminasi pada seseorang. Beberapa guru lain membantah agar tidak melakukan hal yang dinyatakan guru tersebut. Mereka menyarankan untuk para siswa lain untuk membujuknya dengan cara halus, dengan cara pendekatan. Namun percuma! guru tersebut sudah memaksa Budi untuk libur untuk mengobati penyakitnya.

Dan akhirnya budi menjalaninya dengan setengah hati.

Kemudian setelah budi menjalani pengobatan ia pun masuk sekolah kembali. Kami menyambutnya dengan baik. Namun beberapa siswa putri masih risih dengan kehadirannya.

Beberapa bulan berlalu hingga akhirnya siswa dan siswi terbiasa dengannya. Karena memang penyakitnya tidak menular.

-Terima kasih-

*saya kurang pandai bercerita. namun saya sangat ingin menceritakan konflik ini. agar “mereka” tidak menilai seseorang dari luar saja*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s